-PUISI PERTAMA
KEPADA WANITA YANG GETIR HATINYA
(Untuk Wardhani)
Kau wanita yang hadir di bawah langit yang indah..
Kau miliki segala apa yang dianugerahkan tuhan kepada manusia untukmu.,
Kau yang selalu menari sebagai pesona ditiraimu..
Janganlah kau menghanyutkan senyummu dengan keluhan,,
Dan jangan kau meminum air keruhmu bercampur dengan airmatamu yang getir.
Jauhilah semua gelanggang kegetiranmu demi harapan agungmu,,
Kau lah wanita yang hidup sebagai ratu di hatimu,,,
Jangan kau biarkan jiwamu bagai tawanan yang dilemparkan kedalam kegelapan…
Usapkan seluruh air mata itu sampai kegetiran dihapus oleh keindahanmu dan keindahanmu…
Dan hapus segala kegetiran karena itu adalah cara-cara yang keliru dan malang..
Dan kau, hai wanita agung yang sedang getir hatinya…
Aku tak mau mendengar aliran air matamu lagi,
Karena yang ingin ku dengar hanya nafas dari hembusan senyummu itu…
- PUISI KEDUA
SENJA DI PELABUHAN KECIL
(Chairil Anwar)
Ini kali tidak ada yang mencari cinta
di antara gudang, rumah tua, pada cerita
tiang serta temali. Kapal, perahu tiada berlaut
menghembus diri dalam mempercaya mau berpaut
Gerimis mempercepat kelam. Ada juga kelepak elang
menyinggung muram, desir hari lari berenang
menemu bujuk pangkal akanan. Tidak bergerak
dan kini tanah dan air tidur hilang ombak.
Tiada lagi. Aku sendiri. Berjalan
menyisir semenanjung, masih pengap harap
sekali tiba di ujung dan sekalian selamat jalan
dari pantai keempat, sedu penghabisan bisa terdekap
-PUISI KETIGA
YANG TERAMPAS DAN YANG PUTUS
(Chairil Anwar)
kelam dan angin lalu mempesiang diriku,
menggigir juga ruang di mana dia yang kuingin,
malam tambah merasuk, rimba jadi semati tugu
di Karet, di Karet sampai juga deru dingin
aku berbenah dalam kamar, dalam diriku jika kau datang
dan aku bisa lagi lepaskan kisah baru padamu;
tapi kini hanya tangan yang bergerak lantang
tubuhku diam dan sendiri, cerita dan peristiwa berlalu beku
- PUISI KEEMPAT
TENTANG KAMPUNG HALAMAN
Berpikir tentang Kampung halaman,
Saya melihat sungai-sungai yang luas,
Bergerak perlahan melalui habisnya dataran rendah.
Dan berbaris tak beraturan,
Dan menipis di ujung muara,
Berdiri sebagai bukit yang tinggi satu di atas yang lain;
Dan cekung dalam ruang indah,
tersebar di seluruh negeri,
kelompok rimbunan pohon,
Dan dalam satu wujud sederhana.
udara menusuk merendah
dan matahari perlahan-lahan teredam dalam abu-abu
berbintik-bintik kabut,
Dan suara air,
Dan dengan bencana yang abadi
Yang dikhawatirkan dan selalu di dengar
Tidak ada komentar :
Posting Komentar